Showing posts with label DANEM. Show all posts
Showing posts with label DANEM. Show all posts

Friday, June 28, 2013

ARGUMENTS: Perbandingan Persebaran Nilai UN SMP

Saya tidak ingin panjang lebar, telah saya tuliskan banyak hal di artikel sebelumnya yang bertema serupa. Saya hanya ingin anda, yang telah menyempatkan waktu untuk membuka tautan yang saya publish, membedakan dan menghitung persen perbandingan persebaran nilai UN SMP tahun ini dengan tahun kemarin. Selamat menikmati.

TAHUN 2013


Tahun 2012

Apa yang ada di pikiran anda? Sebenarnya tidak perlu menghitung susah payah, sudah sangat jelas bahwa terdapat perbedaan yang sangat sangat sangat sangat... Ambillah contoh peraih nem 38-39. Anda bisa lihat, 92 banding 3137!!!! Berapa persen penurunan yang dicapai tahun ini, sangat mengagumkan. Bayangkan jika anda berada di kedua belah pihak, pihak yang pertama adalah pihak yang mendapat nem tinggi di tahun 2012, dan pihak kedua adalah mendapat nem kecil di tahun 2013. Anda pilih yang mana? Saya? Jika saya memang harus memilih, saya lebih senang berada di tahun 2013.

Tanggapan saya, menurut saya pribadi, pemerintah di bidang pendidikan mampu mencetak NILAI ASLI tahun ini. Anda mendapat nilai kecil? 32? 34? Itulah kemampuan anda. Saya mengakui bahwa nilai saya dulu 36 dan memang ITULAH KEMAMPUAN SAYA. Jangan takut kalah, jangan merasa minder dengan nilai 36 ke bawah, jangan lihat statistik tahun kemarin, yang mengungkap fakta dan perhitungan yang pernah saya lakukan dulu, yaitu nilai 36 kebawah tidak bisa sekolah di SMA manapun. Tahun ini, persebaran nilai SANGAT STABIL. Tujuan pemerintah tercapai, jangan mencaci sebelum mengetahui lebih dalam mengapa sebuah kebijakan diterbitkan.

Anda, lebih tepatnya yang menjalani UNAS tahun ini, bayangkan hidup anda jika anda hidup di tahun sebelumnya, tahun saya. Nilai saya 36, apa yang saya dapat? SAYA MUNGKIN TIDAK BISA SEKOLAH DI SEKOLAH BAGUS. Berbahagialah karena nilai tersebar semestinya. Nem 37 di tahun saya pun terancam tidak dapat sekolah yang diinginkan. Pernahkah anda sesekali melihat statistik dan berkaca, dimana posisi anda saat ini jika dibandingkan secara global? Ini alasan saya menghitung dulu, dan benar saja inilah yang terjadi, sulit mendapat sekolah WALAUPUN nilai saya rata-rata 9.

Anda yang saat ini sedang menunggu pergeseran jalur masuk reguler, mungkin merasa lebih santai karena nilai yang nampak bekisar antara 36-32. Anda tengok tahun kemarin, nilai 38 dimana-mana, dan saya? Mungkin hanya masuk rekap tanpa bisa tercantum 'diterima' di jalur reguler. KESIMPULANNYA? Pemerintah berhasil mencetak nilai asli dan menstabilkan persebaran nilai. Terima kasih banyak kepada adik-adik tercinta atas caciannya. Pikirkan efek positifnya, anda merasakan sedikit ketenangan dalam menunggu pergeseran. Mungkin saya tidak pernah tahu rasanya bergeser-geser di jalur reguler, namun teman sebaya saya banyak yang tersingkir karena kurang memperhitungkan waktu dan sekolah pilihan. Akhirnya? Banyak anak yang lebih pantas harus sekolah di sekolah berbayar. Efek berkelanjutan? Bagaimana jika anak tersebut merupakan dari keluarga kurang mampu? Susah kan? Karena memang nilai 32-34 adalah nilai UMUM yang akan dicapai seorang siswa melalui jalur JUJUR. 38-40? Hahaha, 36 saja susah. Anda berkaca, pantaskah anda mendapat nem hampir sempurna? Jawaban milik anda masing-masing.

Sekian dari saya, mungkin saya tidak menyinggung 'jokian' karena sudah sering muncul di tulisan sebelumnya. Anda tahu sendiri, susah kan joki 20 paket dengan barcode dan tingkat kesulitan ditambah 10%? Saya minta maaf apabila ada salah kata, keberadaan tulisan ini ditujukan hanya untuk referensi saja. Terima kasih.

Sunday, June 2, 2013

ARGUMENTS: Menanggapi Nilai UN yang Salah

MISTERI TERSULAPNYA NILAI UN GITA SARASWATI DARI 0,82 MENJADI 7,8

MERDEKA.COM. Kesedihan sempat mewarnai wajah Gita Saraswati (17), siswi SMA Negeri 15 Sunggal Medan setelah dinyatakan tidak lulus ujian nasional (UN). Gita dinyatakan tidak lulus karena nilai ujian Bahasa Indonesia-nya hanya 0,82.

Gita lalu protes ke sekolahnya dan dinas pendidikan. Ia protes karena yakin bisa mengerjakan soal UN Bahasa Indonesia dengan mudah. Di sekolah, nilai Bahasa Indonesia Gita rata-rata 8.

"Gita tidak bisa terima. Gita yakin bisa jawab soalnya. Minimal 20 soal saya bisa jawab, apalagi itu kan mata ujian hari pertama, boleh tanya orangtua, saat itu Gita benar-benar fokus belajar. Kok nilainya cuma 0,82," kata Gita, siswi SMA Negeri 15 ini, Rabu (29/5) lalu.
Sehari setelah Gita berbicara ke publik, perjuangan Gita membuahkan hasil. Bim salabim, tiba-tiba dari pihak sekolah mendapat informasi bahwa Gita lulus ujian.

Ternyata, nilai Bahasa Indonesia Gita tidak 0,82 tapi 7,8. Karena ada perubahan nilai, Gita akhirnya dinyatakan lulus.

Kepala SMAN 15 Medan, Darwin Siregar mengaku tak tahu bagaimana nilai bahasa Indonesia Gita Saraswati bisa salah. Darwin juga tidak bisa menjelaskan kronologi terjadinya kesalahan pada penilaian lembar jawaban ujian Bahasa Indonesia Gita.

"Bukan domain saya menjawab itu, melainkan panitia UN," jelasnya kepada merdeka.com, Kamis (30/5).

Tidak hanya Darwin, Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Sumut Yusri dan Ketua Panitia UN Dinas Pendidikan Medan Marasutan Siregar mengaku tidak mengetahui persoalan itu.

"Saya belum mendapat laporan. Saya baru tahu dari Anda," ucap Yusri saat dihubungi merdeka.com, Kamis (30/5).

Ketidaktahuan ini juga disampaikan Marasutan Siregar. Seperti Yusri, dia juga sempat bertanya tentang kasus yang menimpa Gita Saraswati. "Yang mana? Oh kalau soal hasil itu ke Unimed (Universitas Negeri Medan)," katanya.

Kalau semua tidak tahu begini, lantas siapa yang harus bertanggung jawab?
Sumber: Merdeka.com


Kasus kesalahan nilai seperti ini kerap terjadi. Jangankan dalam skala ujian nasional, skala ulangan harian di sekolah saja mungkin juga akan berdampak kepada masa depan siswa. Kasus ini adalah salah satu dari salah ribuan kasus salah nilai. Bagaimana mungkin pihak yang berkaitan dengan pelaksanaan UNAS tidak tahu-menahu tentang hal ini (ceritanya sih baru tahu setelah dikabari). Kasus seperti ini adalah kesalahan fatal pihak panitia, entah itu masalah bersumber dari pensil, LJK, scanner, atau mungkin ada oknum terselubung, semua kemungkinan lebar terbuka.

Bayangkan jika anda mendapat nilai 7,0 di salah satu mapel UNAS, yang sebenarnya nilai anda adalah 10,00. Anda dengan sangat jelas tidak akan rela hal seperti ini terjadi. Mau tidak mau seluruh rakyat, terutama siswa harus mengikuti ketentuan UNAS, yaitu NILAI ADALAH SEGALANYA. Anda tahu sendiri tujuan diadakannya UNAS dan dampak dari nilai UNAS. Dengan mencuatnya kasus salah nilai seperti ini ke media massa, maka kemungkinan salah nilai bagi anda juga tidak mungkin tertutup rapat. Inilah kesalahan teknis yang dapat menghancurkan masa depan anak bangsa. Emosi siswa diadu, naik turun ketika pra dan pasca UNAS, lalu dengan gampangnya nilai mereka tertuliskan dengan jelas sekian. Misalnya bahasa 8,00. Matematika 8,50 dan seterusnya tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Saya pribadi dulu sangat amat penasaran dengan nilai saya, dimana letak kesalahan saya sehingga nilai saya tidak bisa mencapai nilai sempurna. Siapa yang tahu? Siapa juga yang tahu jika nilai yang telah dipatenkan itu adalah salah? Rasanya sebagai konsumen dari pendidikan di Indonesia ini, saya sangat merasa dibodohi dengan adanya kegiatan UNAS yang kurang jelas ini.

Saya sendiri bingung mencari solusinya. Mungkin kepastian nilai dapat diperkuat dengan memberikan kunci jawaban beserta pembahasan pasca nilai UNAS diumumkan, efek sampingnya adalah pihak panitia UNAS harus merombak habis-habisan soal UNAS untuk tahun depan. Namun dengan adanya kunci dan pembahasan ini, anda dapat bayangkan seberapa besar manfaatnya. Selain anda tahu pasti bahwa nilai UNAS anda adalah benar, anda juga belajar banyak mengenai kesalahan yang anda buat ketika mengerjakan soal. Manfaat lainnya diperoleh oleh adik-adik anda, mereka akan belajar soal UNAS beserta pembahasannya yang sudah pasti benar karena kunci tersebut berasal dari penyelenggara UNAS. Mereka tidak perlu takut salah jawaban ketika berlatih mengerjakan soal UNAS tahun-tahun sebelumnya. Dengan berjalannya waktu, kemungkinan dinamika danem yang akan diperoleh siswa juga akan meningkat, ini diakibatkan karena siswa belajar sesuai dengan apa yang akan dikeluarkan ketika menghadapi UNAS. Siswa akan merasa sangat terbantu secara mental juga, ini akan mengurangi rasa grogi, tegang, dan takut mereka ketika menghadapi UNAS yang sesungguhnya.

Saya mendapat tanggapan pada artikel sebelumnya, seseorang memiliki seorang adik yang telah menghadapi UNAS tahun ini.Anggaplah namanya Paula. Namun Paula komplain akibat SKL yang diberikan sekolah jauh meleset dari UNAS yang sesungguhnya. Hal ini perlu disorot karena membahayakan keadaan mental siswa. Paula berkata bahwa adiknya ketakutan apabila nantinya dia tidak dapat diterima di sekolah bagus. Hal seperti ini mungkin bisa diatasi dengan cara yang saya sebutkan pada paragraf sebelumnya. Mungkin untuk mengganti sistem seperti itu perlu waktu, tapi alangkah baiknya jika ini benar-benar direalisasikan. Akan sangat membantu berbagai pihak, dan mungkin pihak panitia UNAS juga harus mempertimbangkan perombakan soal tiap tahunnya demi masa depan anak bangsa.

Sedikit bercerita saja, saya banyak mengalami masalah pendapat dengan mapel Bahasa Indonesia. Saya menganggap mapel ini lumayan susah, bukan berarti saya tidak bisa mengerjakan, justru saya merasa saya bisa 100% (hanya mengerjakan, abaikan masalah nilai haha). Tapi nilai saya tidak pernah sempurna, bahkan pernah dibawah KKM. Yang saya permasalahkan adalah, saya tidak pernah tahu jawaban yang benar seperti apa. Dampaknya adalah saya akan terus menjawab pertanyaan serupa (yang mungkin salah) dengan jawaban yang sama. Saya juga tidak bisa menyalahkan pihak pengajar, seharusnya saya berusaha mencari jawaban yang benar kepada guru saya, tapi tahu sendiri saya tipe yang sulit belajar. Namun suatu ketika hati saya ini sakit, kenapa soal yang saya anggap mudah hanya membuahkan nilai sekian? Saya sangat berharap pihak institusi pendidikan akan memberikan kunci beserta pembahasannya, mungkin akan lebih baik dalam membantu meningkatkan nilai siswa di kemudian hari, juga kepastian nilai akan terjamin. Namun apa boleh buat, mungkin ada juga pihak perancang soal yang merasa kesulitan dengan kebijakan seperti ini.

Sekian tanggapan saya atas masalah ini, saya rasa ini sudah sangat-sangat malam dan saya harus belajar matematika untuk besok. Sungguh, saya merasa sangat penasaran dengan bab dimensi tiga, saya ingin jadi arsitek dan apa boleh buat saya terlanjur jatuh cinta dengan bab 'nggilani' ini akibat saya terlalu sering bermain dengan bangun ruang. Sedikit cerita lagi, saya minta maaf apabila saya cenderung terlihat berbohong ketika ditanya "kamu sudah belajar? kamu bisa ini? bisa itu?" maaf saya akan terus menjawab tidak dan belum karena saya tidak berani mempertanggungjawabkan nilai saya nantinya.. Karena kemungkinan saya remidi matematika sangat besar, maka jangan minta ajari saya, saya barusan belajar setengah jam yang lalu. Akhir kata, saya minta maaf apabila anda merasa tidak enak dengan keberadaan argumentasi ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberi hidayah kepada kita semua, dan doakan saya tidak remidi satu mapel pun UKK ini. Terima kasih.

Friday, May 31, 2013

ARGUMENTS: UNAS


Dalam rangka pengumuman nem unas SMP, saya dengan penuh perasaan menulis artikel ini. Bagaimanapun juga saya pernah merasakan duduk di bangku SMP dan bergumul dengan yang namanya pra dan pasca UNAS. Sebelumnya saya minta maaf apabila nantinya anda termasuk pihak yang dipojokkan, namun dari lubuk hati yang paling dalam, tidak ada niat dari diri saya untuk memicu pertengkaran, hanya sebatas mengkritisi dan memberi tanggapan akan fenomena yang selalu gempar ini.

            Tahun lalu saya berada di situasi tegang akibat UNAS. Saya yang dulunya murid paling nakal di sekolah, paling gak bisa apa-apa, dan yang jelas saya nggak seberapa pinter. Seiring berjalannya waktu, saya bertaubat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dan alhasil saya berhasil mendapatkan danem dengan rata-rata sembilan. Awalnya sih saya senang, kemudian alangkah sakitnya hati ini mendapati bahwa teman-teman berhasil mencetak tidak hanya rata-rata sembilan, tapi hampir sempurna. Saya dan bunda semalaman menghitung danem se-Surabaya dan menyadari bahwa danem saya ‘hopeless’. Tidak bisa masuk manapun, walaupun sekolah ‘pinggir’ pun saya tidak mampu. Saya menangis setiap hari (ini hanya menangis, tidak diikuti belajar). Saya menyesali pola belajar saya yang hanya 15 menit sehari. Danem saya 36,45, danem yang saya butuhkan untuk masuk sekolah ‘pinggir’ sekalipun harus mencapai angka minimal 37,00. Akhirnya saya pasrah dan dengan sangat terpaksa mengikuti tes RSBI. Itupun saya belajar setengah hati karena memang bukan itu sekolah tujuan saya. Saya belajar dua hari sekali dengan intensitas yang sama, kurang lebih 15 menit (percaya atau tidak, memang 15 menit). Dan Allah SWT menurunkan rahmatnya, saya diterima dengan nomor urut 81 di sekolah pilihan pertama. Kaget, senang, dan sedih (berpisah dengan teman). Waktu itu penilaian dibagi atas 60% nem dan 40% hasil tes. Mukjizat, karena nem saya sangat mungil.

            Paragraf diatas intermezzo saja, pengalaman saya di SMP akibat pola belajar yang meremehkan dan kurang baik untuk dicontoh. Yang perlu saya tekankan adalah, tahun angkatan saya sedang ‘usum’ jokian. Pasti sudah tau joki itu apa, sejenis olahraga yang menggunakan puck dan lapangan berupa horison es. Saya korban jokian, dan beberapa teman saya juga korban. Hanya perbedaannya saya diberi mukjizat dan beberapa teman saya terlantar akibat ledakan nilai danem. Pasti semuanya juga sudah tau ‘terlantar’ artinya apa. Dengan sedikit penekanan, saya ingin memberi sedikit kritik akibat sistem pendidikan di Indonesia yang masih sangat konvensional yaitu UNAS. Saya pribadi tidak setuju walaupun saya sendiri tidak berbuat apa-apa, yang bisa saya perbuat hanya menulis kritik dan saran. Definisi UNAS sendiri sudah mengerikan, tiga tahun sekolah dan 4 hari menentukan segalanya, sangat tidak adil dan makmur.

            Saya bingung harus membahas dari mana, sudah satu tahun saya melupakan hal ini, awalnya saya menggebu dan banyak mengkritik. Dimulai dari akarnya saja.

1.     Timbulnya UNAS
a.     Saya tidak bisa semena-mena menerka dan menetapkan motif dari munculnya UNAS ke dunia yang fana ini. Saya tidak tahu pasti, tapi menurut saya UNAS diadakan untuk mempermudah menentukan kelulusan. Dulu nilai minimal bekisar antara 3 sampai 4, seiring berjalannya waktu sekarang jadi 5 atau lebih. Ada kesan diskriminasi disini. Setiap siswa berhak untuk lulus, kembali  kepada fungsi sekolah sendirim yaitu lembaga menuntut ilmu bukan menuntut kelulusan.
b.     UNAS diadakan untuk mempermudah menentukan kelulusan,  mau tidak mau bisa dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk keperluan pribadi, entah itu oknum dari dalam maupun luar dalam berbuat curang.
c.      Tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pemerintah, karena bagaimanapun juga pasti ada pihak pro dan kontra terhadap UNAS. Bagi pemerintah juga susah untuk memutuskan akan menghapus UNAS, atau justru meningkatkan levelnya. Namun jika saya duduk di kursi yang berwenang, saya akan mempertaruhkan apapun demi ditiadakannya sistem diskriminasi ini.

2.     Pelaksanaan UNAS
a.     Saya telah menyebutkan fenomena joki sebelumnya. Ini adalah efek samping dari diadakannya UNAS. Curang ada karena peraturan ketat yang mau tidak mau mengurangi kesempatan untuk dapat lolos. Curang berawal dari rasa tidak pede, lalu takut nilai jelek, kemudian gengsi, dan akhirnya efek yang sebenarnya adalah menimbun kebohongan besar. Mungkin mencontek adalah hal wajar, saya sendiri melakukannya. Alangkah baiknya jika seseorang dapat memilah kapan harus mencontek, dan kapan harus kerja murni. Pikirkan kembali sebelum menggunakan jokian karena efek samping yang ditimbulkan mungkin diluar dugaan. Pernahkan kalian yang ‘terlanjur’ menggunakan joki berempati kepada mereka yang harus sekolah di sekolah yang muram masa depan akibat kalian yang merebut kursi mereka? Pernahkah kalian berpikir panjang dan melebarkan cakupan risiko yang mungkin terjadi jika nilai UNAS meledak? Kasihan yang jujur, kasihan yang belajar, kasihan yang sudah mati-matian demi UNAS, kalian sita kursi mereka dengan nilai hasil kebohongan? Ini berbeda dengan nyontek skala UH atau UTS. Semua ada waktunya, pertimbangkanlah konteksnya, jangan asal mencontek tanpa berpikir ratusan kali terhadap dampaknya. Mungkin kalian yang berhasil merebut kursi dari teman kalian yang jujur merasa bahwa ini terlalu mainstream. Ya, kalian pihak yang merebut bukan direbut, sulit untuk ikut merasakan betapa susahnya orangtua membiayai sekolah swasta. Tidak hanya masalah biaya, ini juga soal gengsi, jalur undangan, dan jalur menuju masa depan. Apa susahnya sih jujur dan menyerahkan semuanya sama yang diatas?
b.     Empat mata pelajaran inti harus lulus semua, sedikit menimbulkan kesan yang aneh. Pada dasarnya manusia lahir dengan kemampuan dan minat yang berbeda-beda. Unsur gengsi dan diskriminasi sekolah menyebabkan empat mata pelajaran ini sebagai penentu apakah seorang siswa itu pandai atau tidak. Semua orang pandai. Hanya berbeda bidang.

3.     Timbulnya Spekulasi Modern
a.     Nilai unas merupakan penentu apakah anda pintar atau tidak. Sudah bertransformasi menjadi indikator mutlak. Awalnya saya menjadi korbannya, seiring berjalannya waktu saya menyadari, bukan nilai yang menentukan. Kesusksesan bukan tentang angka.
b.     Anggapan siswa terhadap paket unas, ini yang perlu disorot. Akan dibahas lebih rinci di sub-bab berikutnya.
c.      Nilai UNAS penentu kelangsungan hidup yang selanjutnya. Pilih SMA harus dengan angka danem. Seharusnya SMA unggulan adalah SMA yang tidak mengadakan penyaringan siswa, yang berarti siapapun boleh masuk, dan kinerja SMA tersebut menghasilkan output orang-orang sukses. Jadi sebenarnya seperti ini: orang biasa -> masuk SMA C -> dididik oleh SMA C -> jadi orang sukses. Itulah SMA unggulan. Mungkin saya disini sedikit memberikan aspirasi mengenai pembentukan SMA areal. Dilain waktu akan saya tulis mengenai SMA areal ini.

PAKET UNAS
            Ini sub-bab yang saya tunggu-tunggu. Mayoritas siswa menyalahkan jumlah paket unas yang ditetapkan pemerintah. Dilihat dari alasannya, pemerintah menjadikan paket unas ‘multiplied’ akibat tahun kemarin ledakan nilai unas menyebabkan persebaran siswa kacau balau. Mau tidak mau, sebagai siswa sekolah gratis ya harus menerima. Kembali ke beberapa paragraf sebelumnya saya telah menyebutkan ‘dampak dari joki’.  INILAH DAMPAK BERKELANJUTAN BAGI SEGALA PIHAK. Masih keras kepala wahai pengguna joki? Mau saya jabarkan panjang lebar siklusnya?

1.     UNAS nya dibikin beberapa paket
2.     Banyak siswa menggunakan joki ‘untuk jaga-jaga’
3.     Tahun kemarin, danem meledak
4.     Persebaran siswa SMP menuju SMA tidak karuan
5.     Banyak anak masuk sekolah yang tidak sepantasnya
6.     Banyak anak yang tidak sepantasnya duduk di kursi sekolah unggulan jika digunakan perbandingan antara anak yang ‘pantas’ dan ‘belum pantas’. Ditinjau dari peniliaian sepihak atas individu terhadap individu lain (mau tidak mau harus menggunakan metode ini). Metode ini diperkuat dengan pengalaman saya yang mendengar beberapa komentar guru terhadap perolehan nilai siswa. Tau lah pastinya.
7.     Pemerintah, tepatnya dinas pendidikan trauma akan hal ini
8.     Cara efektif yang mungkin dilakukan dalam jangka waktu setahun adalah memperbanyak paket unas. Untuk apa? Supaya jokinya susah dan tidak terjadi ledakan lagi. Simpel kan?
9.     Tahun ini danem banyak kecil akibat jokinya susah, impian diknas bukan untuk membuat bodoh siswa, lebih tepatnya mengutamakan kejujuran.
10.                         Adik kelas, tepatnya angkatan tahun ini komplain akibat paketnya banyak. Sebut saja akibat jokinya susah.

Sudahkah anda menemukan dampak berkelanjutan yang saya maksud? Dari dulu saya sudah sekuat tenaga mengingatkan bahwa dampaknya tidak hanya untuk sekarang tapi juga untuk angkatan berikutnya. Masih belum percaya? Mungkin bagi anda, joki hanya perbuatan sepele. Akan jadi besar jika hampir seluruh siswa melakukan kegiatan joki. Inilah yang ingin saya sampaikan sejak dulu, inilah yang saya jadikan bahan omelan dulu. Inilah apa yang anda caci dulu. Apakah anda termasuk salah satu yang meremehkan perkataan saya dulu? Mungkin dampak besar lainnya belum nampak. Anda tunggu saja.

Lalu adik-adik kita dengan gampangnya menyalahkan pemerintah atas penambahan jumlah paket. Jika anda mengetahui pasti pesan apa yang saya sampaikan pada 10 langkah tadi, anda tahu siapa yang seharusnya patut dipersalahkan. Tidak perlu panjang lebar, anda tahu jawabannya. Pemerintah berbuat demikian akibat ulah siapa.

Saya menghabiskan sabtu ini untuk mengobservasi tanggapan peserta UNAS tahun ini, sebelumnya saya mohon maaf bila anda salah satu dari lampiran yang akan saya tayangkan. Ini hanya untuk pembelajaran dan penguatan argumen dengan dibantu bukti.

 Yang pertama adalah tanggapan seperti disamping. Saya sebagai mantan siswa SMP merasa perkataan seperti ini sangat tidak pantas. Anda sekolah 9 tahun dan ini output anda? Mengatakan bahwa pemerintah goblok? Anda sudah pintar? Susah jokinya ya dek? Saya kehabisan kata-kata, ini memalukan. Memangnya semua salah pemerintah? Ini juga salah angkatan kalian yang sebelumnya. Emang situ bisa jadi pemerintah? Saya pribadi tidak dapat memungkiri bahwa saya pernah merasakan danem jelek dan menyalahkan keadaan, khususnya pemerintah. Awalnya saya beranggapan bahwa jokian berasal dari oknum dalam milik pemerintah (yang mungkin adalah benar), kemudian saya berpikir lama mengenai hal ini, saya menemukan tidak sepantasnya saya berbicara demikian. Pemerintah sudah bekerja keras demi bangsa, jika ada kesalahan seperti ini, yang mungkin bisa dibilang bukan kesalahan melainkan upaya untuk menanggulangi ledakan nilai, anda tidak pantas berkata seperti demikian.

 Inilah tanggapan berikutnya. Saya awalnya merasa bingung dengan kalimat "Niat pengen gawe goblok ta pinter?!". Wahai adik-adikku yang lucu dan imut-imut, maksudnya goblok dan pinter itu adalah joki? Kalo anak pinter ya meskipun paketnya dibuat 2000 tetep gak masalah, toh nggak nyontek siapa-siapa. Sungguh dunia ini membingungkan. Apa sih yang salah sama 20 paket? Susah nyontek? Susah kerja sama? Susah joki? Jadi anak yang pinter itu yang nyontek? Jadi supaya anak pinter itu maka dikasih kesempatan nyontek yang banyak? Inalillahi.. Jadi anak bodoh diakibatkan karena tidak bisa nyontek? Akibat unasnya pake barcode? Tuhan bantu hamba memahami dunia ini.. Tolong pertimbangkan kembali sebelum menulis sesuatu. Saya susah payah memilih diksi untuk menjelaskan pola pikir saya supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Saya tahu mungkin saya akan mendapat tanggapan seperti "banyak bacot lu", "sok tau", dan masih banyak lagi. INI HAK GUWE.

Tanggapan berikutnya cukup kritis namun ada kekurangan, yaitu mengatakan pemerintah goblok. Saya tahu yang dimaksud adalah 'oknum' di dalam pemerintahan, dan saya tahu kegiatan korupsi mungkin saja dilakukan di bidang pendidikan. Dan soal kebocoran, maksudnya adalah jokian (benda yang menyebabkan gempar), itu adalah bentuk komplain atas ketidakadilan sistem pendidikan. Namanya bocor kalo gak dari dalem ya dari mana lagi. Mungkin itu yang hendak disampaikan bahwa joki terlahir di dunia akibat oknum dari dalam. Saya lebih setuju jika tidak ada UNAS di Indonesia. Lihat negara maju lainnya, mana ada UNAS? UNAS butuh biaya dan mengorbankan mental anak bangsa. Namun bagi pemerintah, penghapusan UNAS juga susah, mencari alternatif penggantinya lebih susah lagi.

Yang ini lucu pake bawa-bawa nama Pak Nuh segala. Ini menyinggung perasaan. Usul seperti itu muncul akibat tahun kemarin yang "chaos". Kalo situ yang jadi pemerintah mau apa? Sebenarnya saya sudah kebakaran rambut ketek akibat perkataan adik-adik yang lucu ini. Lalu apa yang penting? Bagaimana supaya penting? UNAS 20 paket tidak penting? Dunia ini serba salah. Jadi siswa salah, jadi pemerintah salah, jadi penulis argumen salah.





Saya sempat berpartisipasi dengan tweet ini, saking murkanya. Seolah-olah statement ini memaksa siswa untuk mengerjakan 20 paket sekaligus, toh mereka hanya mengerjakan satu. MASALAH APA SEBENARNYA YANG TERJADI JIKA PAKETNYA 20? Ya kembali lagi sih, susah nyontek juga susah bawa jokiannya. Memangnya kenapa kalo jaman mereka dulu hanya 2 paket? Nyonteknya gampang? Yaampun saya heran setengah hidup dengan mereka yang beranggapan bahwa paket adalah penyebab segalanya terjadi. Baca kembali 10 tahap yang sudah saya jabarkan sebelumnya. Dan anehnya, kenapa kertas 20 paket harus diemplok....

Sebenarnya ini sama dengan komentar yang sebelumnya bahwa perbanyakan paket membuat siswa menjadi goblok. Apa perlu saya mengulas kembali? Mungkin yang beranggapan seperti disamping banyak. Semoga artikel ini membuka mata mereka... Saya justru berdoa supaya UNAS ditiadakan.
 Yaiyalah masuk SMA favorit tes dulu, inilah akibat dari diskriminasi. Alangkah baiknya jika sekolah di Indonesia menganut sistem sekolah areal. Saya sudah capek menanggapi.
Saya tidak tahu harus menanggapi apa. Yang jelas intinya adalah sama, menyalahkan keberadaan paket UNAS. Kalo nilai kalian jelek, yang salah ya kalian. Yang mengerjakan kan kalian. Kemenyek adalah ungkapan yang tidak tepat untuk menguatkan statement ini. Yasudahlah saya juga bingung ini maksudnya apa.

Saya capek sekali. Saya ingin mengakhiri argumen ini. Semuanya toh pasti sudah tau apa kesimpulannya. Jangan hanya menyalahkan keadaan. Yang sebenarnya nilai jelek bukan karena siapa-siapa tapi karena kalian sendiri. Dan untuk angkatan saya yang sudah terlanjur menggunakan joki, ya selamat menikmati dampaknya. Apalagi yang mencaci saya atas perkataan saya dulu, enjoy the show. Saya minta maaf apabila ada pihak yang tidak nyaman atas keberadaan argumen ini. Namun saya akan tetap mengaspirasikan apapun yang ada di kepala saya, terima kasih.